Di lingkup Kecamatan Kalidawir ini jika disebutkan kata “Cah Clangap” akan muncul kesan pemuda yang ahli bertani melon. Ini serius. Jika tidak percaya boleh dikroscek langsung. Berkali-kali penulis ngopi blusak-blusuk di berbagai desa, berkali-kali pula mendapatkan informasi bahwa mereka yang sekarang piawai bertani melon dulunya belajar kepada “Cah Clangap”. Memang tidak semua, namun kebanyakan begitu.

*****

Clangap adalah nama lain dari Dusun Bangunsari, Desa Tunggangri. Dusun yang berada di wilayah terjauh arah Tenggara dari pusat Desa ini sering disalahpahami bukan wilayah Tunggangri. Ada yang mengira bagian dari Desa Jabon, ada lagi yang mengira bagian dari Desa Salakkembang, ada pula yang menganggap poncotane Desa Kalidawir.

Baca: SEJARAH DESA TUNGGANGRI

Secara geografis dusun ini berada di sekitar bantaran Sungai Kalidawir (sebagian orang menyebutnya Kali Gèdhé). Salah satu sungai yang jika musim hujan debit airnya bisa naik berkali-kali lipat hingga luber bahkan sering juga bisa membuat tanggul sungai jebol. Sehingga maklum bagi masyarakat Desa Tunggangri jika mereka harus berteman dengan banjir, walèt, bléthok, jalan licin dan lain-lain.

Warga Masyarakat Bangunsari mayoritas berprofesi sebagai petani. Sebagian ada yang memilih berdagang. Ada pula sebagian kecil lain yang menjadi Guru dan atau PNS. Lalu satu lagi profesi yang dulu termasuk paling tinggi peminatnya namun semakin ke sini semakin menurun, yaitu buruh migran atau PMI (Pekerja Migran Indonesia/ dulu TKI).

Ya, memang saat ini jumlah PMI di Dusun Bangunsari sudah banyak berkurang. Data dari pemetaan awal Petugas Desmigratif Desa Tunggangri menyimpulkan bahwa ada kemandegan suplay PMI dari Dusun Bangunsari. Artinya, masyarakat Bangunsari dewasa ini sudah banyak yang tidak memilih bekerja sebagai PMI. Penyebabnya bukan karena jumlah warga usia produktif menurun. Justru saat ini Bangunsari linier dengan angka kelompok usia produktif Indonesia, yakni berada pada posisi yang tinggi.

Ini tentu menarik disoroti. Kabupaten Tulungagung, lebih khusus lagi Kecamatan Kalidawir sudah lama mashur masuk dalam peta mayoritas buruh migran. Bahkan di era 90-an tercatat Kalidawir sebagai kecamatan “terkaya”. Konon itu disebabkan dari pengaruh profesi PMI tersebut. Bahkan hingga tahun 2020 ini Kalidawir masih ditunjuk sebagai Kecamatan yang salah satu desanya dipilih untuk menerima Program Desa Migran Produktif (Desmigratif) dari Kemnaker (Kementrian Tenaga Kerja).

Baca: TUNGGANGRI SEKARANG DESMIGRATIF

Sampai sekarang, bagi kebanyakan masyarakat Kalidawir  bekerja sebagai PMI sebeanarnya masih diyakini lebih menjanjikan. Apabila mengalami kebuntuan ekonomi, biasanya pikiran sontak mengambil PMI sebagai solusi. Lebih dari itu, PMI sebenarnya bukan hanya sekadar pilihan tetapi sudah menjadi budaya di masyarakat. Di kalangan para pemuda Kalidawir ada semacam kesadaran kolektif bahwa seorang pemuda (khususnya laki-laki) kurang afdol kiranya jika tidak punya pengalaman bekerja di luar negeri.

Dalam kondisi budaya yang seperti itu, tentu terkesan aneh jika para pemuda Dusun Bangunsari bersikap kontras dengan tidak begitu tertarik bekerja menjadi PMI. Namun bagaimanapun kenyataannya memang demikian. Dewasa ini, hampir semua pemuda pasca lulus sekolah (SMA) lebih memilih bekerja di rumah daripada harus merantau. Bahkan orang-orang yang merantau justru tidak sedikit juga yang memilih pulang dan membangun perekonomian sendiri di kampung halaman.

Lalu mengapa mereka menjadi betah bekerja di rumah?

Jawabannya tidak lain karena mereka merasa kembali ke profesi nenek moyang ternyata bisa lebih menguntungkan, yaitu bertani. Saat ini di Bangunsari semacam ada iklim perekonomian baru. Mereka menemukan semangat baru di dunia pertanian, khususnya di bidang holtikultura.

Sejak sepuluh tahun terakhir, pertanian Bangunsari mengalami perkembangan yang bagus. Produk-produk holtikultura dihasilkan diantaranya ada: melon, cabai, bawang merah, tomat, dan lain-lain. Komoditas khusus yang menjadi unggulan tiap tahunnya adalah melon. Dari bertanam melon ini nyata mampu menjadikan taraf ekonomi masyarakat Bangunsari meningkat. Tidak hanya itu, karena penghasilan bertanam melon bagus, menjadikan para pemuda lebih tertarik belajar dan ikut menanam komoditas ini.

Wal hasil, di kalangan “Cah Clangap” saat ini turut hanyut pada kesadaran budaya perekonomian baru itu. Mereka lebih tertarik berbicara tentang cara mengolah tanah daripada sibuk mengolah data diri agar bisa masuk bekerja ke luar negeri. Mereka lebih tertarik membahas persoalan pupuk daripada belajar persoalan sulitnya masuk bekerja di negara tertentu. Mereka lebih suka berbicara tentang KUR untuk modal bertani daripada meminjam uang untuk bekerja di negeri yang nilai tukar mata uangnya tinggi.

Ada yang menarik disarankan di sini. Jika berbicara tentang pertanian dengan “Cah Clangap” jangan sekali-kali bicara tentang pupuk, dan pestisida jika tidak memahami istilah-istilah kimia tentang keduanya. Petani Bangunsari dalam bertani sudah pada level “makrifat” tentang tanah bagaimana-tanaman apa lalu unsur hara kimiawi yang diperlukan apa.  Masalah cara-cara bertani modern, mereka bisa dikatakan sudah lumayan mumpuni. (Tentang ilmu-ilmu pertanian ini rencananya akan dikupas di tulisan yang khusus).

Setelah penulis beberapa kali bertandang ke sana dan berusaha memahami dusun ini, memang Bangunsari memiliki anugerah budaya etos kerja dan semangat berkembang yang tinggi. Bahwa dusun ini berada di tempat terjauh, di sekitar sungai, dan berprofesi sebagai petani, iya. Akan tetapi, salah besar jika orang memandang kondisi itu sebagai kondisi yang pelosok dan sulit berkembang. Justru dengan posisinya itu Bangunsari mampu tampil sebagai masyarakat yang “ampuh”: tahan banting  dengan terus ulet dalam memaksimalkan segala potensinya untuk mengembangkan ekonomi. Kini Bangunsari mampu membangun karakter Dusun Pertanian yang lebih modern, mandiri dan maju.

Ya, Bangunsari benar-benar “ampuh”. Kita mudah saja membayangkan jika dalam suatu perguruan tinggi, lebih khusus lagi di Fakultas Pertanian bisa sukses dalam budidaya tanaman tertentu. Hal ini karena di dalamnya ada para ahli pertanian, selain itu memang pertanian dikaji secara serius dan sistematis. Bisa juga itu terjadi di Desa yang mana benar-benar mendapat binaan dari dinas terkait untuk mampu membudidayakan tanaman tertentu sampai berhasil.

Bangunsari nyatanya tidak demikian. Bangunsari adalah Dusun yang mana di situ tidak ada satu pun lulusan bangku kuliah pertanian, pun tidak pernah mendapat pembinaan khusus dari Dinas terkait.  Akan tetapi, dusun ini kenyataannya mampu membudidayakan tanaman-tanaman holtikultura yang notabene tergolong tanaman priyayi yang sulit.

Dalam perjalanannya, masyarakat Bangunsari bukan tidak menghadapi problem. Sebagaimana diungkapkan beberapa petani pemuda dusun itu, semangat mereka dalam bertani diiringi dengan masalah yang tidak bisa dianggap sepele. Diantaranya adalah:

Pertama, modal. Khusus bagi pemuda yang masih pemula biasanya memiliki masalah permodalan. Jangankan pemula, petani yang kawakan saja juga masih butuh itu. Dalam usaha pertanian, modal dapat dikatakan menjadi kunci penting. Mereka para pemuda mempunyai minat dan potensi akan tetapi sering terbentur dengan permodalan ini. Memang di Bank ada KUR, namun bagi mereka masih merasa terbebani dengan bunga dan agunan.

Kedua, pembinaan. Meskipun Bangunsari  sudah sangat mandiri, tetapi sebenarnya masih perlu adanya pembinaan. Bagaimanapun problem menanam semakin hari semakin kompleks. Dalam hal penyikapan terhadap hama misalnya, semakin hari hama tanaman semakin bervariasi, dan ini butuh semacam pendampingan agar ketika muncul problem yang serius bisa cepat mendapatkan solusi.

Ketiga, krisis pupuk. Khususnya pupuk yang bersubsidi, sering kali masyarakat Bangunsari kesulitan untuk mendapatkannya. Pada saat krisis, tidak jarang mereka harus pergi ke Kecamatan lain untuk mendapatkan pupuk. Dan ini agaknya sudah menjadi “lagu lama” problem pupuk nasional yang tak kunjung usai.

Keempat, lahan menanam. Di Bangunsari lahan menanam terbilang masih kurang. Apa lagi ketika musim tanam melon, mereka membutuhkan lahan khusus dengan habitat tertentu yang bisa ditanami. Hal ini menjadi problem tersendiri.

Para petani Bangunsari sempat mengalami apa yang dikatakan pepatah: habis manis sepah dibuang. Sebab pengalaman dan ilmunya yang mumpuni di bidang holtikultura melon, menjadikan mereka dipinang untuk bekerjasama oleh orang tertentu di desa tertentu yang memiliki lahan strategis. Lalu, dikarenakan petani Bangunsari membutuhkan lahan tersebut, mereka pun bersedia. Akan tetapi dalam perjalanannya sering kali terjadi hal yang kurang menguntungkan bagi petani Bangunsari. Usia kerjasama itu seringkali tidak bisa lama, hanya bertahan seumur melon. Setelah sukses panen dan partner bertani Petani Bangunsari tersebut sudah menguasai ilmu  permelonan, pada musim selanjutnya si patner enggan bekerja sama lagi. Si patner memilih untuk menanam sendiri. Akhirnya petani Bangunsari harus berpindah-pindah mencari lahan lain agar tetap bisa menanam.

Betapapun problem-problem tersebut menyulitkan bagi mereka, para petani tidak patah arang. Mereka terus berupaya bagaimana agar tetap bisa menanam. Satu hal yang perlu digarisbawahi terkait problem keempat. Justru dengan petani Bangunsari bergantian bekerjasama dengan petani lain di berbagai desa, secara kultural sebenarnya mereka turut andil dalam pemberdayaan ekonomi petani lain. Petani-petani di lingkup Kalidawir yang dulu awam dengan tanaman melon, kini menjadi mengerti, dan bisa menikmati kesuksesan menanam melon. Bagaimanapun, Petani Bangunsari telah mampu memberi inspirasi. Mereka tidak kikir ilmu dan selalu terbuka jika ada orang lain ingin belajar.

*****

Tepatnya akhir bulan Januari (2020) lalu, sebagian Petani Muda Bangunsari turut serta mengisi pendataan untuk ikut program YESS (Youth Enterpreneurship and Employment Support Service). Salah satu program dari Kementrian Pertanian yang didanai oleh IFAD (International Fund for Agricultural Development) untuk memberdayakan petani muda Indonesia. Prorgam ini menawarkan pembangunan pertanian mulai dari hulu (petani di sawah dan kebun) hingga hilir (pengolahan hasil pertanian). Di hulu program ini menawarkan beberapa bantuan berupa: bibit gratis, bantuan teknologi, alat mesin pertanian dan bantuan yang disertai pendampingan.

Baca: KEMENTAN DAN IFAD LUNCURKAN PROGRAM YESS

Dengan adanya program ini sebenarnya ada semacam cahaya terang yang bisa diharapkan. Sekali lagi, Petani Bangunsari memang tergolong mandiri, namun bukan berarti mereka terus dibiarkan. Setidaknya, dengan terekrutnya mereka pada program YESS diharapkan bisa memunculkan solusi bagi problem pertanian yang selama ini dialami.

Ada statemen mengesankan ketika proses pendataan program YESS untuk petani muda di Bangunsari berlangsung, “Kami sudah beberapa kali di data seperti ini, akan tetapi setelah ditunggu ternyata tidak ada tindak lanjut apa-apa. Katanya akan ada bantuan ini-itu, namun nyatanya hanya memberi harapan palsu.”

Kini tinggal menunggu keputusan dari pihak pelaksana program YESS. Semoga program itu bisa menyentuh Pemuda Dusun Bangunsari, lebih umum lagi, seluruh peserta yang terdata dari Desa Tunggangri. Bukan apa-apa. Ada banyak hal yang perlu dimengerti dari masyarakat Bangunsari. Peranan-peranan kultural yang sudah dilakukan Petani Bangunsari di ranah pertanian dan perekonomian pedesaan terbukti bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Ya, mereka sebenarnya begitu patut diapresiasi.[] (Admin).

Bagaimana reaksi anda mengenai artikel ini ?